INFRASTRUKTUR untuk E-BUSINESS
Kemajuan teknologi komunikasi dan jaringan, terutama internet, menyediakan inrastruktur yang dibutuhkan untuk e-business. Bagian ini memberikan pengantar atas gambaran umum konsep jaringan dan mendiskusikan isu-isu strategis yang berkaitan dengan metode-metode alternatif yang dapat dipergunakan organisasi dalam mengimplementasikan e-business.
Jenis-jenis Jaringan
Jaringan telekomunikasi dibanyak perusahaan dipergunakan untuk melakukan e-commers dan mengelola operasi internal yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
1. Local Area Network (LAN)
2. Wide Area Network (WAN)
3. Value-added Network dan
4. Internet
Software Komunikasi
Software komunikasi mengelola aliran data melalui suatu jaringan. Software komunikasi didesain untuk bekerja dengan berbagai jenis peraturan dan prosedur untuk pertukaran data. Software ini melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut:
1. Pengendalian akses
Software ini berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan hubungan antar-berbagai peralatan; secara otomatis memutar dan menjawab telepon; membatasi akses hanya pada para pemakai yang berwenang; serta membuat parameter seperti: kecepatan, mode, dan arah pengiriman.
1. Pengelolaan jaringan
Pada software ini berfungsi untuk mengumpulkan data untuk memeriksa kesiapan peralatan jaringan untuk mengirim atau menerima data; membuat aturan antri untuk masukan dan keluaran; menetapkan prioritas dalam sistem,mengirimkan pesan; dan mencatat aktivita, penggunaan, dan kesalahan dalam jaringan.
1. Pengiriman data dan file
Software ini berfungsi untuk mengontrol pengiriman data, file dan pesan-pesan diantara berbagai peralatan.
1. Pendeteksi dan pengendalian atas kesalahan
Software ini berfungsi untuk memastikan bahwa data yang dikirim benar-benar merupakan data yang diterima.
1. Keamanan data
Software ini berfungsi untuk melindungi data selama pengiriman dari akses pihak yang tidak berwenang.
PILIHAN KONFIGURASI JARINGAN
Konfigurasi LAN
Konfigurasi LAN mempunyai tiga ciri dasar, yaitu: konfigurasi bintang, konfigurasi cincin, dan konfigurasi.
1. Konfigurasi Bintang
Dalam konfigurasi bintang, setiap peralatan secara langsungb terhubung dengan server pusat. Seluruh komunikasi antara peralatan dikendalikan dan dikirim melalui serverv pusat. Biasanya, server akan mengumpulkan data setiap peralatan untuk melihat apakah peralatantersebut ingin mengirim pesan. Konfigurasi bintang adalah cara termahal untuk membangun LAN karena membutuhkan banyak sekali kabel untuk menghubungkannya. Akan tetapi, keunggulan utamanya adalah apabila salah satu titik sedang gagal (down), kinerja jaringan yang lain atau jaringan selebihnya tidak terganggu.
1. Konfigurasi Cincin
Pada konfigurasi cincin, setiap titik secara langsung terhubung dengan dua titik lainnya. Ketika sebuah pesan melalui cincin tersebut, setiap titik akan memeriksa judul paket untuk menetapkan apakah data tersebut ditujukan bagi titik berkaitatau tidak. LAN yang dikonfigurasikan cincin mempergunakan software yang disebut dengan token. Token ini berfungsi sebagai untuk mengendalikan aliran data dan untuk mencegah tabrakan. Token secara terus-menerus beroperasi disepanjang cincin. Jadi, titik-titik lainnya harus menunggu hingga pesan yang dikirim sampai pada tujuannya dan token tersebut bebas kembali, sebelum mereka dapat mengirim data. Apabila hubungan dalam cincin rusak, jaringan tersebut dapat berfungsi, walaupun lebih pelan, dengan cara mengirimkan seluruh pesan ke arah yang berbeda.
1. Konfigurasi BUS
Didalam konfigurasi BUS, setiap peralatan dihubungkan dengan saluran utama, atau yang disebut BUS. Pengendali komunikasi didesentralisasi melalui jaringan BUS. Konfigurasi BUS mudah untuk diperluas dan lebih murah untuk dibuat daripada konfigurasi bintang. Akan tatapi, kinerjanya akan menurun apabila jumlah titik yang dihubungkan meningkat.
Jumat, 03 Desember 2010
Jenis-jenis e-bussines & Faktor-faktor keberhasilan E-Bussiness
Jenis-jenis e-bussines & Faktor-faktor keberhasilan E-Bussiness
Jenis-jenis e-bussines :
* B2B, adalah bisnis yang dilakukan sebuah perusahaan dengan perusahaan lain(antara perusahaan) baik itu perusahaan yang bergerak pada bidang industri yang sama ataupun berbeda dengan menggunakan media Internet. B2B biasa dilakukan untuk menghemat biaya transaksi. Sebagai contoh perusahaan A ingin memesan sejumlah unit komputer pada perusahaan B, maka perusahaan A dapat mengakses situs resmi perusahaan B dan menuliskan pesanannya. Perusahaan B yang mendapatkan pesan pemesanan barang tersebut akan mengirimkan barang yang dimaksud. Pembayaran biasanya dilakukan berdasarkan kesepakatan sebelumnya. Meskipun tentu saja pemesanan barang ini dapat dilakukan dengan mengangkat telepon. Salah satu contoh perusahaan di Indonesia yang menerapkan konsep B2B adalah situs www.dagang2000.com milik PT Indosat Adimarga dan www.indonesianexport.com milik PT e-Commerce Nusantara.
* B2C, dapat diartikan sebagai jenis perdagangan elektronik dimana ada sebuah perusahaan (business) yang melakukan penjualan langsung barang-barangnya kepada pembeli (consumer). Kesuksesan dari B2C pada dasarnya dikarenakan faktor penawaran barang kualitas tinggi dengan harga murah dan banyak pula dikarenakan pemberian layanan kepada konsumen yang cukup baik Contoh perusahaan kelas dunia yang telah menerapkan B2C adalah www.Amazon.com dan www.WSJ.com
* Business to Administrator, adalah sebuah kegiatan memanagement semua aspek bisnis yang dibangun untuk bisa membangun dan mengembangkan bisnis yang dilakukan sesuai dengan sasaran dan tujuan dari pembagun bisnis yang dilakukan. Sebagian besar perusahaan memiliki sebuah kelompok khusus administrator yang bekerja untuk memastikan hal ini terjadi. Contoh situs yang menggunakan konsep ini adalah www.emagister.net
* Brokerage, adalah orang yang menyediakan pasar, brokerage memiliki peran dalam mempertemukan dan memfasilitasi transaksi antara penjual dan pembeli. Brokerage sering memainkan peran dalam bisnis-to-business (B2B), business-to-konsumen (B2C), atau konsumen-ke-konsumen (C2C). Keuntungan didapat oleh brokerage dari komisi yang diberikan oleh pihak yang terlibat dalam transaksi baik itu penjual atau pembeli. Contoh situsnya seperti www.respond.com atau www.paypal.com
* Seller Driven Market, adalah jenis pasar penjualan elektronik komoditas, dimana dalam pasar ini terjadi kelangkaan komoditas atau barang yang mendasar yang mengakibatkan harga menjadi mahal karena permintaan atas barang / pasokan yang amat tinggi. Contoh situs yang mengaplikasikan pasar ini adalah www.lelangmurah.com
* Buyer Driven Market, adalah jenis pasar elektronik yang berlawanan dengan pasar Seller driven market. Dalam pasar ini bisanya terdapat banyak sekali situs atau penjual yang menawarkan sebuah produk yang sama sehingga dengan demikian pembeli memilki kesempatan untuk memilih. Ketika keadaan pasar seperti ini biasanya harga barang yang ditawarkan oleh penjual akan cenderung murah. Contoh situs yang cukup terkenal dengan konsep ini misalnya www.buyers-market.net
Faktor-faktor keberhasilan E-Business
* Terdapat dua faktor penting dalam menetapkan keberhasilan langkah-langkah untuk masuk dalam e-business.
* Faktor pertama adalah tingkat kesesuaian dan dukungan aktivitas e-business atas strategi keseluruhan perusahaan.
* Faktor kedua adalah kemampuan untuk menjamin bahwa proses e-business memenuhi tiga karakteristik kunci yang dibutuhkan dalam transaksi bisnis apapun, yaitu : Validitas, Integritas, dan Privasi
Jenis-jenis e-bussines :
* B2B, adalah bisnis yang dilakukan sebuah perusahaan dengan perusahaan lain(antara perusahaan) baik itu perusahaan yang bergerak pada bidang industri yang sama ataupun berbeda dengan menggunakan media Internet. B2B biasa dilakukan untuk menghemat biaya transaksi. Sebagai contoh perusahaan A ingin memesan sejumlah unit komputer pada perusahaan B, maka perusahaan A dapat mengakses situs resmi perusahaan B dan menuliskan pesanannya. Perusahaan B yang mendapatkan pesan pemesanan barang tersebut akan mengirimkan barang yang dimaksud. Pembayaran biasanya dilakukan berdasarkan kesepakatan sebelumnya. Meskipun tentu saja pemesanan barang ini dapat dilakukan dengan mengangkat telepon. Salah satu contoh perusahaan di Indonesia yang menerapkan konsep B2B adalah situs www.dagang2000.com milik PT Indosat Adimarga dan www.indonesianexport.com milik PT e-Commerce Nusantara.
* B2C, dapat diartikan sebagai jenis perdagangan elektronik dimana ada sebuah perusahaan (business) yang melakukan penjualan langsung barang-barangnya kepada pembeli (consumer). Kesuksesan dari B2C pada dasarnya dikarenakan faktor penawaran barang kualitas tinggi dengan harga murah dan banyak pula dikarenakan pemberian layanan kepada konsumen yang cukup baik Contoh perusahaan kelas dunia yang telah menerapkan B2C adalah www.Amazon.com dan www.WSJ.com
* Business to Administrator, adalah sebuah kegiatan memanagement semua aspek bisnis yang dibangun untuk bisa membangun dan mengembangkan bisnis yang dilakukan sesuai dengan sasaran dan tujuan dari pembagun bisnis yang dilakukan. Sebagian besar perusahaan memiliki sebuah kelompok khusus administrator yang bekerja untuk memastikan hal ini terjadi. Contoh situs yang menggunakan konsep ini adalah www.emagister.net
* Brokerage, adalah orang yang menyediakan pasar, brokerage memiliki peran dalam mempertemukan dan memfasilitasi transaksi antara penjual dan pembeli. Brokerage sering memainkan peran dalam bisnis-to-business (B2B), business-to-konsumen (B2C), atau konsumen-ke-konsumen (C2C). Keuntungan didapat oleh brokerage dari komisi yang diberikan oleh pihak yang terlibat dalam transaksi baik itu penjual atau pembeli. Contoh situsnya seperti www.respond.com atau www.paypal.com
* Seller Driven Market, adalah jenis pasar penjualan elektronik komoditas, dimana dalam pasar ini terjadi kelangkaan komoditas atau barang yang mendasar yang mengakibatkan harga menjadi mahal karena permintaan atas barang / pasokan yang amat tinggi. Contoh situs yang mengaplikasikan pasar ini adalah www.lelangmurah.com
* Buyer Driven Market, adalah jenis pasar elektronik yang berlawanan dengan pasar Seller driven market. Dalam pasar ini bisanya terdapat banyak sekali situs atau penjual yang menawarkan sebuah produk yang sama sehingga dengan demikian pembeli memilki kesempatan untuk memilih. Ketika keadaan pasar seperti ini biasanya harga barang yang ditawarkan oleh penjual akan cenderung murah. Contoh situs yang cukup terkenal dengan konsep ini misalnya www.buyers-market.net
Faktor-faktor keberhasilan E-Business
* Terdapat dua faktor penting dalam menetapkan keberhasilan langkah-langkah untuk masuk dalam e-business.
* Faktor pertama adalah tingkat kesesuaian dan dukungan aktivitas e-business atas strategi keseluruhan perusahaan.
* Faktor kedua adalah kemampuan untuk menjamin bahwa proses e-business memenuhi tiga karakteristik kunci yang dibutuhkan dalam transaksi bisnis apapun, yaitu : Validitas, Integritas, dan Privasi
Pengertian E-Business
Pengertian E-Business
Pengertian e-Business atau definisi e-business adalah kegiatan bisnis yang dilakukan secara otomatis dan semiotomatis dilakukan dengan menggunakan teknologi elektronik. E-business memungkinkan suatu perusahaan untuk berhubungan dengan sistem pemrosesan data internal dan eksternal secara lebih efisien dan fleksibel. E-business juga banyak dipakai untuk berhubungan dengan suplier dan mitra bisnis perusahaan, serta memenuhi permintaan dan melayani kepuasan pelanggan secara lebih baik.
Penggunaan sehari-hari, e-business tidak hanya menyangkut perdagangan elektronik atau e-commerce saja. Dalam hal ini, e-commerce lebih merupakan sub bagian dari e-business, sementara e-business meliputi segala macam fungsi dan kegiatan bisnis menggunakan data elektronik, termasuk pemasaran Internet. Sebagai bagian dari e-business, e-commerce lebih berfokus pada kegiatan transaksi bisnis lewat www atau Internet. Dengan menggunakan sistem manajemen pengetahuan, e-commerce mempunyai goal untuk menambah revenu dari perusahaan.
E-business berkaitan secara menyeluruh dengan proses bisnis termasuk value chain: pembelian secara elektronik (electronic purchasing), manajemen rantai suplai (supply chain management), pemrosesan order elektronik, penanganan dan pelayanan kepada pelanggan, dan kerja sama dengan mitra bisnis. E-business memberi kemungkinan untuk pertukaran data di antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, baik lewat web, Internet, intranet, extranet atau kombinasi di antaranya.
Pengertian e-Business atau definisi e-business adalah kegiatan bisnis yang dilakukan secara otomatis dan semiotomatis dilakukan dengan menggunakan teknologi elektronik. E-business memungkinkan suatu perusahaan untuk berhubungan dengan sistem pemrosesan data internal dan eksternal secara lebih efisien dan fleksibel. E-business juga banyak dipakai untuk berhubungan dengan suplier dan mitra bisnis perusahaan, serta memenuhi permintaan dan melayani kepuasan pelanggan secara lebih baik.
Penggunaan sehari-hari, e-business tidak hanya menyangkut perdagangan elektronik atau e-commerce saja. Dalam hal ini, e-commerce lebih merupakan sub bagian dari e-business, sementara e-business meliputi segala macam fungsi dan kegiatan bisnis menggunakan data elektronik, termasuk pemasaran Internet. Sebagai bagian dari e-business, e-commerce lebih berfokus pada kegiatan transaksi bisnis lewat www atau Internet. Dengan menggunakan sistem manajemen pengetahuan, e-commerce mempunyai goal untuk menambah revenu dari perusahaan.
E-business berkaitan secara menyeluruh dengan proses bisnis termasuk value chain: pembelian secara elektronik (electronic purchasing), manajemen rantai suplai (supply chain management), pemrosesan order elektronik, penanganan dan pelayanan kepada pelanggan, dan kerja sama dengan mitra bisnis. E-business memberi kemungkinan untuk pertukaran data di antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, baik lewat web, Internet, intranet, extranet atau kombinasi di antaranya.
Sistem Informasi Akuntansi
Sistem Informasi Akuntansi (SIA) adalah suatu komponen organisasi yang mengumpulkan, mengklasifikasikan, mengolah, menganalisa dan mengkomunikasikan informasi finansial dan pengambilan keputusan yang relevan bagi pihak luar perusahaan dan pihak ekstern.
Akuntansi sendiri sebenarnya adalah sebuah Sistem Informasi.
Karakteristik SIA yang membedakannya dengan subsistem CBIS lainnya :
* SIA melakasanakan tugas yang diperlukan
* Berpegang pada prosedur yang relatif standar
* Menangani data rinci
* Berfokus historis
* Menyediakan informasi pemecahan minimal
Fungsi penting yang dibentuk Sistem Informasi Akuntansi pada sebuah organisasi antara lain :
* Mengumpulkan dan menyimpan data tentang aktivitas dan transaksi.
* Memproses data menjadi into informasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
* Melakukan kontrol secara tepat terhadap aset organisasi.
Subsistem Sistem Informasi Akuntansi memproses berbagai transaksi keuangan dan transaksi nonkeuangan yang secara langsung memengaruhi pemrosesan transaksi keuangan.
Sistem Informasi Akuntansi terdiri dari 3 subsistem:
* Sistem pemrosesan transaksi, mendukung proses operasi bisnis harian.
* Sistem buku besar/pelaporan keuangan, menghasilkan laporan keuangan, seperti laporan laba/rugi, neraca, arus kas, pengembalian pajak.
* Sistem pelaporan manajemen, yang menyediakan pihak manajemen internal berbagai laporan keuangan bertujuan khusus serta informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, seperti anggaran, laporan kinerja, serta laporan pertanggungjawaban.
Berbagai transaksi non keuangan yang tidak bisa diproses oleh Sistem Informasi Akuntansi biasa, diproses oleh Sistem Informasi Manajemen. Adapun perbedaan keduanya adalah :
* SIA mengumpulkan mengklasifikasikan, memproses, menganalisa dan mengkomunikasikan informasi keuangan
* SIM mengumpulkan mengklasifikasikan, memproses, menganalisa dan mengkomunikasikan semua tipe informasi
Sebuah Sistem Informasi Akuntansi menambah nilai dengan cara:
* Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu sehingga dapat melakukan aktivitas utama pada value chain secara efektif dan efisien.
* Meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya produk dan jasa yang dihasilkan
* Meningkatkan efisiensi
* Meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan
* Meningkatkan sharing knowledge
* Menambah efisiensi kerja pada bagian keuangan
2 komponen Sistem Informasi Akuntansi antara lain :
* Spesialis Informasi
* Akuntan
Contoh Sistem Informasi Akuntansi sebagai pusat informasi perusahaan:
* Bagian pemasaran mempertimbangkan untuk memperkenalkan jenis produk baru dalam jajaran produksi perusahaan, untuk itu bagian tersebut meminta laporan analisa perkiraan keuntungan yang dapat diperoleh dari usulan produk baru tersebut
* Bagian SIA memproyeksikan perkiraan biaya dan perkiraan pendapatan yang berhubungan dengan produk tersebut, kemudian data yang diperoleh diproses oleh EDP. Setelah diproses hasilnya dikembalikan ke bagian SIA untuk kemudian diberikan ke bagian pemasaran.
Kedua bagian akan merundingkan hasil analisa tersebut untuk dicari keputusan yang sesuai.
Dari contoh diatas dapat ditemukan 2 aspek yang berhubungan dengan sistem bisnis modern yaitu :
* Pentingnya komunikasi antar departemen yang mengarah untuk tercapainya suatu keputusan.
* Peranan SIA dalam menghasilkan informasi yang dapat membantu departemen lainnya untuk mengambil keputusan.
Informasi Akuntansi yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Akuntansi dibedakan menjadi 2, yaitu :
* Informasi Akuntansi keuangan, berbentuk laporan keuangan yang ditujukan kepada pihak extern.
* Informasi Akuntansi Manajemen, berguna bagi manajemen dalam pengambilan keputusan.
Akuntansi sendiri sebenarnya adalah sebuah Sistem Informasi.
Karakteristik SIA yang membedakannya dengan subsistem CBIS lainnya :
* SIA melakasanakan tugas yang diperlukan
* Berpegang pada prosedur yang relatif standar
* Menangani data rinci
* Berfokus historis
* Menyediakan informasi pemecahan minimal
Fungsi penting yang dibentuk Sistem Informasi Akuntansi pada sebuah organisasi antara lain :
* Mengumpulkan dan menyimpan data tentang aktivitas dan transaksi.
* Memproses data menjadi into informasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
* Melakukan kontrol secara tepat terhadap aset organisasi.
Subsistem Sistem Informasi Akuntansi memproses berbagai transaksi keuangan dan transaksi nonkeuangan yang secara langsung memengaruhi pemrosesan transaksi keuangan.
Sistem Informasi Akuntansi terdiri dari 3 subsistem:
* Sistem pemrosesan transaksi, mendukung proses operasi bisnis harian.
* Sistem buku besar/pelaporan keuangan, menghasilkan laporan keuangan, seperti laporan laba/rugi, neraca, arus kas, pengembalian pajak.
* Sistem pelaporan manajemen, yang menyediakan pihak manajemen internal berbagai laporan keuangan bertujuan khusus serta informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, seperti anggaran, laporan kinerja, serta laporan pertanggungjawaban.
Berbagai transaksi non keuangan yang tidak bisa diproses oleh Sistem Informasi Akuntansi biasa, diproses oleh Sistem Informasi Manajemen. Adapun perbedaan keduanya adalah :
* SIA mengumpulkan mengklasifikasikan, memproses, menganalisa dan mengkomunikasikan informasi keuangan
* SIM mengumpulkan mengklasifikasikan, memproses, menganalisa dan mengkomunikasikan semua tipe informasi
Sebuah Sistem Informasi Akuntansi menambah nilai dengan cara:
* Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu sehingga dapat melakukan aktivitas utama pada value chain secara efektif dan efisien.
* Meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya produk dan jasa yang dihasilkan
* Meningkatkan efisiensi
* Meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan
* Meningkatkan sharing knowledge
* Menambah efisiensi kerja pada bagian keuangan
2 komponen Sistem Informasi Akuntansi antara lain :
* Spesialis Informasi
* Akuntan
Contoh Sistem Informasi Akuntansi sebagai pusat informasi perusahaan:
* Bagian pemasaran mempertimbangkan untuk memperkenalkan jenis produk baru dalam jajaran produksi perusahaan, untuk itu bagian tersebut meminta laporan analisa perkiraan keuntungan yang dapat diperoleh dari usulan produk baru tersebut
* Bagian SIA memproyeksikan perkiraan biaya dan perkiraan pendapatan yang berhubungan dengan produk tersebut, kemudian data yang diperoleh diproses oleh EDP. Setelah diproses hasilnya dikembalikan ke bagian SIA untuk kemudian diberikan ke bagian pemasaran.
Kedua bagian akan merundingkan hasil analisa tersebut untuk dicari keputusan yang sesuai.
Dari contoh diatas dapat ditemukan 2 aspek yang berhubungan dengan sistem bisnis modern yaitu :
* Pentingnya komunikasi antar departemen yang mengarah untuk tercapainya suatu keputusan.
* Peranan SIA dalam menghasilkan informasi yang dapat membantu departemen lainnya untuk mengambil keputusan.
Informasi Akuntansi yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Akuntansi dibedakan menjadi 2, yaitu :
* Informasi Akuntansi keuangan, berbentuk laporan keuangan yang ditujukan kepada pihak extern.
* Informasi Akuntansi Manajemen, berguna bagi manajemen dalam pengambilan keputusan.
Senin, 29 November 2010
Apa yang dimaksud Pendekatan Sistem Dan tahap-tahap serta langkah-langkah pendekatan sistem!.
Pendekatan Sistem adalah Merupakan Serangkaian langkah-langkah pemecahan masalah yang memastikan bahwa masalah dipahami, solusi alternative dipertimbangkan dan solusi yang dipilih bekerja.
Tahap dan Langkah Pendekatan Sistem
1. Usaha Persiapan
Mempersiapkan manajer untuk memecahkan masalah = menyediakan orientasi sistem. Langkah :
Memandang perusahaan sebagai suatu sistem = menggunakan model sistem umum perusahaan.
Mengenali sistem lingkungan = menempatkan perusahaan sebagai suatu sistem dalam lingkungannya.
Mengidentifikasi subsistem perusahaan = subsistem sebagai bentuk area-area fungsional, tingkat-tingkat manajemen sebagai subsitem, arus sumber daya sebagai dasar membagi perusahaan menjadi subsistem.
2. Usaha Definisi
Identifikasi masalah : Suatu masalah ada atau akan ada.
Pemahaman masalah : mempelajari untuk mencari solusi
Pemicu masalah : sinyal umpan balik yang menunjukkan hal-hal lebih baik atau buruk. Langkah :
Bergerak dari tingkat sistem ke subsistem : Tiap tingkatan manajemen adalah suatu subsistem.
Yang dilakukan oleh seorang manajer : mempelajari posisi sistem dihubungkan dengan lingkungan, menganalisis sistem menurut subsistem-subsistem.
Menganalisis bagian sistem dalam urutan tertentu. Pada saat mempelajari tiap tingkat system, elemen-elemen sistem dianalisis secara berurutan :
a. Mengevalusai standar : Standar harus sah, realistic, dimengerti, terukur.
b. Membandingkan output sistem dengan standar
c. Mengevaluasi Manajemen
d. Mengevaluasi pemrosesan Informasi
e. Mengevaluasi input dan sumber daya input
f. Mengevaluasi proses tranformasi
g. Mengevaluasi sumber daya output
3. Usaha Solusi
Mengidentifikasi solusi alternative
Manajer harus mengidentifikasi bermacam-macam cara untuk memecahkan permasalahan yang sama. Contoh : computer tidak dapat menangani volume aktifitas kegiatan perusahaan, alternatifnya : menambah computer, mengganti computer, mengganti dengan jarinagan computer.
Mengevaluasi solusi alternative : mempertimbangkan kerugian dan keuntungan dari setiap alternative
Memilih solusi terbaik : mengambil satu alternative
Menerapkan solusi terbaik
Membuat tindak lanjut untuk memastikan bahwa solusi itu efektif : Manajer harus memastikan solusi mencapai kinerja yang direncanakan.
Tahap dan Langkah Pendekatan Sistem
1. Usaha Persiapan
Mempersiapkan manajer untuk memecahkan masalah = menyediakan orientasi sistem. Langkah :
Memandang perusahaan sebagai suatu sistem = menggunakan model sistem umum perusahaan.
Mengenali sistem lingkungan = menempatkan perusahaan sebagai suatu sistem dalam lingkungannya.
Mengidentifikasi subsistem perusahaan = subsistem sebagai bentuk area-area fungsional, tingkat-tingkat manajemen sebagai subsitem, arus sumber daya sebagai dasar membagi perusahaan menjadi subsistem.
2. Usaha Definisi
Identifikasi masalah : Suatu masalah ada atau akan ada.
Pemahaman masalah : mempelajari untuk mencari solusi
Pemicu masalah : sinyal umpan balik yang menunjukkan hal-hal lebih baik atau buruk. Langkah :
Bergerak dari tingkat sistem ke subsistem : Tiap tingkatan manajemen adalah suatu subsistem.
Yang dilakukan oleh seorang manajer : mempelajari posisi sistem dihubungkan dengan lingkungan, menganalisis sistem menurut subsistem-subsistem.
Menganalisis bagian sistem dalam urutan tertentu. Pada saat mempelajari tiap tingkat system, elemen-elemen sistem dianalisis secara berurutan :
a. Mengevalusai standar : Standar harus sah, realistic, dimengerti, terukur.
b. Membandingkan output sistem dengan standar
c. Mengevaluasi Manajemen
d. Mengevaluasi pemrosesan Informasi
e. Mengevaluasi input dan sumber daya input
f. Mengevaluasi proses tranformasi
g. Mengevaluasi sumber daya output
3. Usaha Solusi
Mengidentifikasi solusi alternative
Manajer harus mengidentifikasi bermacam-macam cara untuk memecahkan permasalahan yang sama. Contoh : computer tidak dapat menangani volume aktifitas kegiatan perusahaan, alternatifnya : menambah computer, mengganti computer, mengganti dengan jarinagan computer.
Mengevaluasi solusi alternative : mempertimbangkan kerugian dan keuntungan dari setiap alternative
Memilih solusi terbaik : mengambil satu alternative
Menerapkan solusi terbaik
Membuat tindak lanjut untuk memastikan bahwa solusi itu efektif : Manajer harus memastikan solusi mencapai kinerja yang direncanakan.
memahami sebuah system dan bagaimana pendekatannya serta mengaplikasikan nya ?
Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.
Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut.
Kata "sistem" banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka.
Berbagai Pendekatan Sistem
Dalam menguraikan penerapan pendekatan sistem pembelajaran, Good dan Brophy Good,dalam Educational Psychology, 1990 menjelaskan tentang konsep pendekatam sistem yang dikemukakan oleh beberapa ahli pembelajaran antara lain sebagai berikut:
a. Pendekatan sistem Gagne & Briggs (1979)
Perancangan instruksional adalah seni dan merupakan pengetahuan terapan, menciptakan metode yang efisien untuk mencapai tujuan pendidikan. Gagne & Briggs, merekomendasikan suatu pendekatan sistem, yang mengandung level system, level courses, level lesson, dan level final system.
Pertama: Level sistem meliputi analisa kebutuhan, tujuan, dan prioritas, kemudian menganalisis sumber, kendala, dan alternatif sistem pengiriman serta mengembangkan cakupan kurikulum, urutan bahan dan urutan tujuan yang spesifik, mengurutkannya dalam tugas-tugas yang masuk akal dan mengidentifikasi sistem pengiriman untuk dimanfaatkan pada instruksional.
Kedua: Level courses menentukan struktur bahan dan urutan isi dalam mengorganisasikan courses, sekitar tujuan target dan tujuan antara serta perspektifnya. Untuk mencapai ini, perlu membentuk analisis proses informasi (barangkali menggunakan flow chart), klasifikasi tugas (dengan memperhatikan kondisi belajar yang dikaitkan dengan setiap tugas), dan analisis tugas belajar (termasuk mengidentifikasi hirarki belajar yang relevan untuk pembelajaran dalam keterampilan intelektual).
Dalam menganalisis tujuan (pembelajaran) ada tiga hal yang perlu dianalisis, yaitu:
1) analisis memproses informasi yang diharapkan dapat menyingkap operasi mental untuk membentuk tujuan,
2) mengklasifikasikan tugas untuk mengkategorisasikan hasil, dan mengidentifikasi kondisi belajar yang akan ditetapkan, dan
3) menganalisis tugas-tugas belajar untuk mengidentifikasi tujuan antara yang dibutuhkan sebelum mengajarkan tujuan-tujuan target.
Ketiga: Level lesson yaitu mengidentifikasi tujuan untuk setiap pelajaran (topik) dan merencanakan event-event instruksional (termasuk media, bahan ajaran, dan evaluasi) yang digunakan. Di sini perancang instruksional, melahirkan kreatifitas, pengetahuan mata ajaran dan pengetahuan tentang siswa untuk menentukan informasi apa untuk disampaikan, apa contoh atau demonstrasi, media atau bahan ajaran, praktek, dan aktivitas pelaksanakan yang digunakan.
Pada level perencanaan pelajaran (modul) setiap kegiatan perencanaan dan menentukan tujuan khusus memerlukan pengembangannya sebagai berikut:
1) Daftarkan kegiatan-kegiatan pembelajaran untuk dilaksanakan;
2) Tentukan bahan ajar, media, atau agen yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan kegiatan-kegiatan pembelajaran tersebut;
Merancang atau merencanakan kegiatan pembelajaran, termasuk rencana bagaimana media dan bahan ajaran digunakan; mengkaji serta memilih media dan bahan ajaran untuk merencanakan aturan atau kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan guru untuk menyelesaikan pelajaran tersebut.
Keempat; Level sistem yang terakhir meliputi evaluasi, uji lapangan, dan difusi informasi mengenai sistem belajar yang dikembangkan. Gagne dan Briggs membedakan tipe kemampuan belajar manusia dalam 5 (lima) macam/tipe yaitu; ketrampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap, dan ketrampilan motorik. Dalam pelaksanaannya di lapangan kelima tipe kemampuan tersebut hendaknya diajarkan dengan melalui langkah-langkah yang dimulai dari meningkatkan perhatian siswa, menginformasikan tujuan yang akan dicapai, menstimuli ingatan siswa terhadap pengetahuan prasyarat, memberikan bahan yang merangsang stimuli, memberikan petunjuk belajar, memperoleh perilaku, memberikan umpan balik, mengukur perilaku, dan terakhir menambah pengulangan dan transfer.
Pendapat Gagne dan Briggs (1977) mengenai pendekatan rancangan pembelajaran yang diketahui barangkali memang betul, tapi itu hanya satu dari beberapa pendekatan (Andrews & Goodson, 1980, Braden & Sachs, 1983, Dick & Cerey, 1978, Gagne & Dick, 1983, Reigeluth, 1983, dan berbagai issue dari jurnal pengembangan pembelajaran). Banyak pendekatan lain yang sama dengan Gagne dan Briggs, bedanya hanya dalam terminologi dan tingkat kerincian dari poin-poin khusus. Beberapa perbedaan yang dapat diperhatikan, barangkali karena perbedaan pendekatan didaktik pembelajaran yang ditekankan oleh Gagne dan Briggs.
b. Gropper
Gropper memberikan ide bagaimana menstrukturkan kegiatan latihan pada urutan yang mudah ke yang sukar dengan memanipulasi perlakuan alat atau pencapaian pemberian isyarat yang diberikan, size unit perilaku untuk dilatih, mode stimulus dan respon yang dipersyaratkan dan variasi, isi, dan frekuensi latihan. Dia memberikan petunjuk untuk menggunakan variasi treatment tools pada tingkat yang berbeda dalam urutan pembelajaran.
Gropper selanjutnya mengatakan, bahwa variasi dalam model stimulus-respon dapat juga digunakan untuk menambah tingkat kebutuhan secara perlahan-lahan. Latihan yang pertama mungkin hanya mengingatkan jawaban yang benar (dengan memilih beberapa alternatif) di mana latihan-latihan tidak mungkin langsung dikatakan untuk mengedit (koreksi jawaban yang tidak benar) dalam latihan akhir untuk produksi. Secara bersamaan presentasi model stimulus dapat bervariasi, mulai dengan contoh yang konkrit kemudiah pindah ke yang lebih teknis atau definisi yang lebih abstrak atau dimulai dengan prosedur sebelum memperkenalkan prinsip yang umum. Variasi contoh dapat direncanakan untuk menggeneralisasikan dan transfer. Hal itu akan diurutkan dari yang mudah ke yang sukar dengan mempertimbangkan hal-hal yang telah familiar dengan siswa.
c. Case dan Breiter
Sementara itu Case dan Breiter mempermasalahkan bahwa pendekatan yang dikemukakan oleh Gagne akan bekerja baik untuk beberapa hal, tidak seluruh situasi pembelajaran dan kegagalannya secara khas benar, terhadap satu dari dua masalah. Pertama, dengan tugas yang kesulitannya tinggi, kadang-kadang pembelajaran yang diberikan sangat sulit, maka siswa harus memperhatikan begitu banyak komponen yang diajukan melalui tingkatan yang melampaui tugas-tugas yang terbatas dari kerja memori mereka. Kedua, tugas yang diberikan dari analisis logika murni, tidak selamanya berkorespondensi dengan pengembangan komponen-komponen tugas yang dituntaskan secara alamiah dan secara ilmiah tersebut. Mungkin lebih sesuai dengan pembelajaran. Case dan Breiter, menganjurkan bahwa dalam pengembangan kognitif terhadap rancangan pembelajaran hendaknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1) mengidentifikasikan tugas-tugas yang diajarkan dan mengembangkan alat pengukuran untuk menafsirkan dan mendapatkan data tentang ketuntasan tugas itu,
2) mengembangkan prosedur untuk menafsirkan dan menerapkan strategi pembelajaran yang senantiasa dilaksanakan oleg guru serta yang akan dikerjakan siswa dalam merespon terhadap tugas,
3) menggunakan prosedur untuk menafsirkan strategi-strategi yang didigunakan siswa pada berbagai umur, termasuk keberhasilan yang dicapai ketika menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat,
4) merancang suatu urutan pembelajaran untuk mengembangkan dan menentukan suatu kesimpulan sebagai rekapitulasi, menjaga kerja memori siswa yang memuat setiap informasi agar informasi yang diterima bertahan lama dengan memperhatikan keterbatasan,
5) suatu unjuk kerja/kinerja pada level pertama relatif otomatis pindah ke unjuk kerja/kinerja berikutnya. Memperhitungkan bekerjanya memori siswa dan mengajar selangkah demi selangkah disarankan menjaga mereka agar belajar secara ilmiah daripada harus mengajar dalam subordinat ke super ordinat dengan analisis logika.
Case dan Breiter sependapat dengan Gagne yang telah merubah rancangan pembelajaran dari Behaviorisme ke perilaku kognitif, tetapi mengargumentasikan bahwa kebutuhan akan bidang dikembangkan lebih lanjut menuju pengembangan kognitif. Pendekatan perilaku rancangan pembelajaran meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1) mengidentifikasikan potensi yang telah tersedia pada siswa yang memperkuat pembelajaran secara efektif,
2) mengidentifikasikan dan menggambarkan kinerja atau unjuk kerja yang secara khusus diinginkan,
3) menggambarkan perilaku awal atau yang telah dimiliki oleh siswa,
4) menetapkan satu seri kinerja, dimulai dengan kinerja yang telah dimiliki dan mendahului perilaku-perilaku yang diinginkan,
5) memindahkan memori siswa melalui penggunaan urutan langkah-langkah kegiatan demonstrasi ke pembelajaran yang dikaitkan dengan penguatan,
6) meyakinkan siswa dengan latihan penguatan setiap kinerja yang dipelajari secara terus menerus sebelum maju ke langkah berikutnya.
d. Collins dan Stevens
Collins dan Stevens memberikan ide untuk merancang petunjuk pendekatan discovery dan inguiry. Mereka menekankan pada pemilihan dan pengurutan contoh-contoh seperti kreasi yang tidak cocok atau keinginan untuk mengetahui, menstimuli siswa untuk membuat prediksi atau alternatif pemikiran yang memungkinkan dan akhirnya menyeberang ke tujuan umum (akhir) melalui eksplorasi dan discovery. Mereka menjelaskan dan menggambarkan sepuluh strategi pembelajaran sebagai berikut;
1) memilih contoh-contoh yang positif dan negatif,
2) mengadakan berbagai studi kasus secara sistematik,
3) memilih contoh yang berlawanan,
4) menggeneralisasikan kasus secara hipotesis,
5) membuat hipotesa,
6) melaksanakan tes (menguji) hipotesa,
7) memikirkan alternatif prediksi,
8) menguji siswa,
9) menelusuri konsekwensi kontradiksi,
10) memberikan kewenangan untuk bertanya.
Strategi pertama-tama, sama dengan pendekatan didaktik, tetapi Collins dan Stevens memfokuskan pada pemilihan dan urutan contoh-contoh sebagai ketidakcocokan tindakan atau kreasi. Dalam pendekatan inguiry siswa berkesempatan untuk membuat dan mengevaluasi hipotesa dan memberikan aturan-aturan atau prinsip-prinsip dan mendorong untuk memperhatikan alternatif prediksi untuk melompat ke kesimpulan tanpa memperhitungkan alternatif yang sesuai.
Untuk mendiskusikan strategi pembelajaran Collins dan Stevens memberikan aturan-aturan untuk menyusun dan mengurut dialog dengan siswa yang dirancang untuk mencapai tujuan khusus. Kita perhatikan cara kerja mereka secara garis besar tidak dijelaskan secara rinci, tetapi untuk menekankan inti di mana rancangan instruksional adalah penting untuk pendekatan yang berorientasi inquiry dan discovery seperti pendekatan lain dalam mengajar.
Pendektan discovery yang berkaitan dengan informasi tentang konsep belajar dan pembelajaran banyak dipakai dalam merancang metode-metode mengajar konsep. Menurut Tennyson dan Park (1990), mendefinisikan atau menetapkan sebuah konsep sebagai satu set obyek, simbol atau kejadian-kejadian yang menetapkan atribut atau ciri-ciri yang dapat direferensikan oleh sebuah nama atau symbol yang khusus.
Simbol dalam satu pembelajaran telah membatasi pemakaian contoh-contoh, sehingga siswa harus mengingat kembali petunjuk kerja dan alasan-alasan untuk belajar dengan discovery. Penelitian lain menganjurkan bahwa belajar konsep lebih efisien bila dicapai melalui pembelajaran didaktik, termasuk penjelasan langsung tentang aturan-aturan dan definisi-definisi dalam menambah presentasi contoh (Clark, 1971; Francis, 1975; Klausneir, CH.Chantala dan Frayer, 1974; Woodson, 1978).
Penelitian kemudian menganjurkan model untuk konsep mengajar berikut ini (Owen, Blount dan Moscouw, 1978):
1. Menjelaskan definisi konsep itu termasuk label konsep dan menetapkan atribut-atribut.
2. Menjelaskan contoh yang positif pada atribut.
3. Memberikan contoh-contoh negatif untuk membantu membedakan atribut-atribut yang ditetapkan dari atribut-atribut yang kurang relevan.
5. Memberikan contoh-contoh yang positif dan negatif dan menanyakan siswa untuk mengidentifikasikan contoh yang positif.
6. Memberikan umpan balik, memberikan alasan-alasan spesifik mengenai kesalahan.
Pendekatan sistem rancangan pembelajaran sangat bermanfaat, tetapi dibatasi oleh fakta bahwa untuk mengajar sesuatu yang kurang jelas harus dimantapkan melalui cara-cara eksperimen. Beberapa keruwetannya diilustrasikan pada penelitian belajar konsep awal dari pekerjaan yang menampakkan belajar konsep sebagai problem deduksi logika dari clear-cut positif dan negatif.
Bagaimanapun Rosch telah menunjukkan bahwa kategori alamiah dimasukkan dalam kebanyakan belajar konsep dan set-set yang kabur yang didasarkan kesamaan keluarga/jenis. Kadang-kadang seperti belajar dimulai dengan kategori tingkat dasar (mis. kursi) sebelum dilanjutkan ke kategori-kategori tingkat super ordinat (perabotan) atau kategori sub ordinat (kursi santai).
Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut.
Kata "sistem" banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka.
Berbagai Pendekatan Sistem
Dalam menguraikan penerapan pendekatan sistem pembelajaran, Good dan Brophy Good,dalam Educational Psychology, 1990 menjelaskan tentang konsep pendekatam sistem yang dikemukakan oleh beberapa ahli pembelajaran antara lain sebagai berikut:
a. Pendekatan sistem Gagne & Briggs (1979)
Perancangan instruksional adalah seni dan merupakan pengetahuan terapan, menciptakan metode yang efisien untuk mencapai tujuan pendidikan. Gagne & Briggs, merekomendasikan suatu pendekatan sistem, yang mengandung level system, level courses, level lesson, dan level final system.
Pertama: Level sistem meliputi analisa kebutuhan, tujuan, dan prioritas, kemudian menganalisis sumber, kendala, dan alternatif sistem pengiriman serta mengembangkan cakupan kurikulum, urutan bahan dan urutan tujuan yang spesifik, mengurutkannya dalam tugas-tugas yang masuk akal dan mengidentifikasi sistem pengiriman untuk dimanfaatkan pada instruksional.
Kedua: Level courses menentukan struktur bahan dan urutan isi dalam mengorganisasikan courses, sekitar tujuan target dan tujuan antara serta perspektifnya. Untuk mencapai ini, perlu membentuk analisis proses informasi (barangkali menggunakan flow chart), klasifikasi tugas (dengan memperhatikan kondisi belajar yang dikaitkan dengan setiap tugas), dan analisis tugas belajar (termasuk mengidentifikasi hirarki belajar yang relevan untuk pembelajaran dalam keterampilan intelektual).
Dalam menganalisis tujuan (pembelajaran) ada tiga hal yang perlu dianalisis, yaitu:
1) analisis memproses informasi yang diharapkan dapat menyingkap operasi mental untuk membentuk tujuan,
2) mengklasifikasikan tugas untuk mengkategorisasikan hasil, dan mengidentifikasi kondisi belajar yang akan ditetapkan, dan
3) menganalisis tugas-tugas belajar untuk mengidentifikasi tujuan antara yang dibutuhkan sebelum mengajarkan tujuan-tujuan target.
Ketiga: Level lesson yaitu mengidentifikasi tujuan untuk setiap pelajaran (topik) dan merencanakan event-event instruksional (termasuk media, bahan ajaran, dan evaluasi) yang digunakan. Di sini perancang instruksional, melahirkan kreatifitas, pengetahuan mata ajaran dan pengetahuan tentang siswa untuk menentukan informasi apa untuk disampaikan, apa contoh atau demonstrasi, media atau bahan ajaran, praktek, dan aktivitas pelaksanakan yang digunakan.
Pada level perencanaan pelajaran (modul) setiap kegiatan perencanaan dan menentukan tujuan khusus memerlukan pengembangannya sebagai berikut:
1) Daftarkan kegiatan-kegiatan pembelajaran untuk dilaksanakan;
2) Tentukan bahan ajar, media, atau agen yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan kegiatan-kegiatan pembelajaran tersebut;
Merancang atau merencanakan kegiatan pembelajaran, termasuk rencana bagaimana media dan bahan ajaran digunakan; mengkaji serta memilih media dan bahan ajaran untuk merencanakan aturan atau kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan guru untuk menyelesaikan pelajaran tersebut.
Keempat; Level sistem yang terakhir meliputi evaluasi, uji lapangan, dan difusi informasi mengenai sistem belajar yang dikembangkan. Gagne dan Briggs membedakan tipe kemampuan belajar manusia dalam 5 (lima) macam/tipe yaitu; ketrampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap, dan ketrampilan motorik. Dalam pelaksanaannya di lapangan kelima tipe kemampuan tersebut hendaknya diajarkan dengan melalui langkah-langkah yang dimulai dari meningkatkan perhatian siswa, menginformasikan tujuan yang akan dicapai, menstimuli ingatan siswa terhadap pengetahuan prasyarat, memberikan bahan yang merangsang stimuli, memberikan petunjuk belajar, memperoleh perilaku, memberikan umpan balik, mengukur perilaku, dan terakhir menambah pengulangan dan transfer.
Pendapat Gagne dan Briggs (1977) mengenai pendekatan rancangan pembelajaran yang diketahui barangkali memang betul, tapi itu hanya satu dari beberapa pendekatan (Andrews & Goodson, 1980, Braden & Sachs, 1983, Dick & Cerey, 1978, Gagne & Dick, 1983, Reigeluth, 1983, dan berbagai issue dari jurnal pengembangan pembelajaran). Banyak pendekatan lain yang sama dengan Gagne dan Briggs, bedanya hanya dalam terminologi dan tingkat kerincian dari poin-poin khusus. Beberapa perbedaan yang dapat diperhatikan, barangkali karena perbedaan pendekatan didaktik pembelajaran yang ditekankan oleh Gagne dan Briggs.
b. Gropper
Gropper memberikan ide bagaimana menstrukturkan kegiatan latihan pada urutan yang mudah ke yang sukar dengan memanipulasi perlakuan alat atau pencapaian pemberian isyarat yang diberikan, size unit perilaku untuk dilatih, mode stimulus dan respon yang dipersyaratkan dan variasi, isi, dan frekuensi latihan. Dia memberikan petunjuk untuk menggunakan variasi treatment tools pada tingkat yang berbeda dalam urutan pembelajaran.
Gropper selanjutnya mengatakan, bahwa variasi dalam model stimulus-respon dapat juga digunakan untuk menambah tingkat kebutuhan secara perlahan-lahan. Latihan yang pertama mungkin hanya mengingatkan jawaban yang benar (dengan memilih beberapa alternatif) di mana latihan-latihan tidak mungkin langsung dikatakan untuk mengedit (koreksi jawaban yang tidak benar) dalam latihan akhir untuk produksi. Secara bersamaan presentasi model stimulus dapat bervariasi, mulai dengan contoh yang konkrit kemudiah pindah ke yang lebih teknis atau definisi yang lebih abstrak atau dimulai dengan prosedur sebelum memperkenalkan prinsip yang umum. Variasi contoh dapat direncanakan untuk menggeneralisasikan dan transfer. Hal itu akan diurutkan dari yang mudah ke yang sukar dengan mempertimbangkan hal-hal yang telah familiar dengan siswa.
c. Case dan Breiter
Sementara itu Case dan Breiter mempermasalahkan bahwa pendekatan yang dikemukakan oleh Gagne akan bekerja baik untuk beberapa hal, tidak seluruh situasi pembelajaran dan kegagalannya secara khas benar, terhadap satu dari dua masalah. Pertama, dengan tugas yang kesulitannya tinggi, kadang-kadang pembelajaran yang diberikan sangat sulit, maka siswa harus memperhatikan begitu banyak komponen yang diajukan melalui tingkatan yang melampaui tugas-tugas yang terbatas dari kerja memori mereka. Kedua, tugas yang diberikan dari analisis logika murni, tidak selamanya berkorespondensi dengan pengembangan komponen-komponen tugas yang dituntaskan secara alamiah dan secara ilmiah tersebut. Mungkin lebih sesuai dengan pembelajaran. Case dan Breiter, menganjurkan bahwa dalam pengembangan kognitif terhadap rancangan pembelajaran hendaknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1) mengidentifikasikan tugas-tugas yang diajarkan dan mengembangkan alat pengukuran untuk menafsirkan dan mendapatkan data tentang ketuntasan tugas itu,
2) mengembangkan prosedur untuk menafsirkan dan menerapkan strategi pembelajaran yang senantiasa dilaksanakan oleg guru serta yang akan dikerjakan siswa dalam merespon terhadap tugas,
3) menggunakan prosedur untuk menafsirkan strategi-strategi yang didigunakan siswa pada berbagai umur, termasuk keberhasilan yang dicapai ketika menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat,
4) merancang suatu urutan pembelajaran untuk mengembangkan dan menentukan suatu kesimpulan sebagai rekapitulasi, menjaga kerja memori siswa yang memuat setiap informasi agar informasi yang diterima bertahan lama dengan memperhatikan keterbatasan,
5) suatu unjuk kerja/kinerja pada level pertama relatif otomatis pindah ke unjuk kerja/kinerja berikutnya. Memperhitungkan bekerjanya memori siswa dan mengajar selangkah demi selangkah disarankan menjaga mereka agar belajar secara ilmiah daripada harus mengajar dalam subordinat ke super ordinat dengan analisis logika.
Case dan Breiter sependapat dengan Gagne yang telah merubah rancangan pembelajaran dari Behaviorisme ke perilaku kognitif, tetapi mengargumentasikan bahwa kebutuhan akan bidang dikembangkan lebih lanjut menuju pengembangan kognitif. Pendekatan perilaku rancangan pembelajaran meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1) mengidentifikasikan potensi yang telah tersedia pada siswa yang memperkuat pembelajaran secara efektif,
2) mengidentifikasikan dan menggambarkan kinerja atau unjuk kerja yang secara khusus diinginkan,
3) menggambarkan perilaku awal atau yang telah dimiliki oleh siswa,
4) menetapkan satu seri kinerja, dimulai dengan kinerja yang telah dimiliki dan mendahului perilaku-perilaku yang diinginkan,
5) memindahkan memori siswa melalui penggunaan urutan langkah-langkah kegiatan demonstrasi ke pembelajaran yang dikaitkan dengan penguatan,
6) meyakinkan siswa dengan latihan penguatan setiap kinerja yang dipelajari secara terus menerus sebelum maju ke langkah berikutnya.
d. Collins dan Stevens
Collins dan Stevens memberikan ide untuk merancang petunjuk pendekatan discovery dan inguiry. Mereka menekankan pada pemilihan dan pengurutan contoh-contoh seperti kreasi yang tidak cocok atau keinginan untuk mengetahui, menstimuli siswa untuk membuat prediksi atau alternatif pemikiran yang memungkinkan dan akhirnya menyeberang ke tujuan umum (akhir) melalui eksplorasi dan discovery. Mereka menjelaskan dan menggambarkan sepuluh strategi pembelajaran sebagai berikut;
1) memilih contoh-contoh yang positif dan negatif,
2) mengadakan berbagai studi kasus secara sistematik,
3) memilih contoh yang berlawanan,
4) menggeneralisasikan kasus secara hipotesis,
5) membuat hipotesa,
6) melaksanakan tes (menguji) hipotesa,
7) memikirkan alternatif prediksi,
8) menguji siswa,
9) menelusuri konsekwensi kontradiksi,
10) memberikan kewenangan untuk bertanya.
Strategi pertama-tama, sama dengan pendekatan didaktik, tetapi Collins dan Stevens memfokuskan pada pemilihan dan urutan contoh-contoh sebagai ketidakcocokan tindakan atau kreasi. Dalam pendekatan inguiry siswa berkesempatan untuk membuat dan mengevaluasi hipotesa dan memberikan aturan-aturan atau prinsip-prinsip dan mendorong untuk memperhatikan alternatif prediksi untuk melompat ke kesimpulan tanpa memperhitungkan alternatif yang sesuai.
Untuk mendiskusikan strategi pembelajaran Collins dan Stevens memberikan aturan-aturan untuk menyusun dan mengurut dialog dengan siswa yang dirancang untuk mencapai tujuan khusus. Kita perhatikan cara kerja mereka secara garis besar tidak dijelaskan secara rinci, tetapi untuk menekankan inti di mana rancangan instruksional adalah penting untuk pendekatan yang berorientasi inquiry dan discovery seperti pendekatan lain dalam mengajar.
Pendektan discovery yang berkaitan dengan informasi tentang konsep belajar dan pembelajaran banyak dipakai dalam merancang metode-metode mengajar konsep. Menurut Tennyson dan Park (1990), mendefinisikan atau menetapkan sebuah konsep sebagai satu set obyek, simbol atau kejadian-kejadian yang menetapkan atribut atau ciri-ciri yang dapat direferensikan oleh sebuah nama atau symbol yang khusus.
Simbol dalam satu pembelajaran telah membatasi pemakaian contoh-contoh, sehingga siswa harus mengingat kembali petunjuk kerja dan alasan-alasan untuk belajar dengan discovery. Penelitian lain menganjurkan bahwa belajar konsep lebih efisien bila dicapai melalui pembelajaran didaktik, termasuk penjelasan langsung tentang aturan-aturan dan definisi-definisi dalam menambah presentasi contoh (Clark, 1971; Francis, 1975; Klausneir, CH.Chantala dan Frayer, 1974; Woodson, 1978).
Penelitian kemudian menganjurkan model untuk konsep mengajar berikut ini (Owen, Blount dan Moscouw, 1978):
1. Menjelaskan definisi konsep itu termasuk label konsep dan menetapkan atribut-atribut.
2. Menjelaskan contoh yang positif pada atribut.
3. Memberikan contoh-contoh negatif untuk membantu membedakan atribut-atribut yang ditetapkan dari atribut-atribut yang kurang relevan.
5. Memberikan contoh-contoh yang positif dan negatif dan menanyakan siswa untuk mengidentifikasikan contoh yang positif.
6. Memberikan umpan balik, memberikan alasan-alasan spesifik mengenai kesalahan.
Pendekatan sistem rancangan pembelajaran sangat bermanfaat, tetapi dibatasi oleh fakta bahwa untuk mengajar sesuatu yang kurang jelas harus dimantapkan melalui cara-cara eksperimen. Beberapa keruwetannya diilustrasikan pada penelitian belajar konsep awal dari pekerjaan yang menampakkan belajar konsep sebagai problem deduksi logika dari clear-cut positif dan negatif.
Bagaimanapun Rosch telah menunjukkan bahwa kategori alamiah dimasukkan dalam kebanyakan belajar konsep dan set-set yang kabur yang didasarkan kesamaan keluarga/jenis. Kadang-kadang seperti belajar dimulai dengan kategori tingkat dasar (mis. kursi) sebelum dilanjutkan ke kategori-kategori tingkat super ordinat (perabotan) atau kategori sub ordinat (kursi santai).
Selasa, 08 Juni 2010
makelar kasus
NAMA : DEDY SYAMSUDIN
NPM : 30108512
KELAS : 2 DB07
Praktik jaringan mafia kasus bekerja secara sistematis dan terorganisasi. Praktik ini melibatkan oknum-oknum “nakal” di institusi penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, maupun lembaga peradilan. Untuk menghubungkan semua link lembaga penegak hukum ini, biasanya pihak di luar institusi dilibatkan.
SJ, yang diduga sebagai makelar kasus dan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri, disinyalir sebagai pihak yang berperan menjadi penghubung antara penegak hukum dan pihak yang beperkara. Hal itu dikatakan oleh Kepala Bidpenum Polri Zulkarnaen pascapenetapan SJ sebagai tersangka. Modus apalagi yang biasanya dijalankan?
Lobi di pengadilan
Kasus yang sudah sampai pada tahap persidangan pun masih bisa dilobi. Salah seorang pengacara, Luthfie Hakim, menuturkan bahwa biasanya tawaran datang dari orang luar atau dalam pengadilan. Menurut Luthfie, orang dalam pengadilan biasanya panitera. Ia menceritakan pengalaman menangani perkara kelas kakap yang melibatkan adik seorang konglomerat sebagai salah satu tersangkanya.
“Saya menangani legalnya. Tapi ada lawyer yang menangani lobi. Saya katakan, (klien) pasti kena karena waktu itu kan tersangkanya ada empat dan sudah 'dibabat' semua, ngaku semua. Ketika saya bilang pasti kena, adik konglomerat itu pusing. Kata lawyer lobi, enggak akan. Dia bilang Polri 1, 2, 3 sudah dibereskan. Akhirnya belakangan saya baru tahu kalau BAP diganti, pertanyaan dan jawaban dibuat sendiri. Kasusnya akhirnya di-SP3. Saya menghindari terlibat seperti itu dan saya bilang, rusak kalian bikin pengadilan ini,” ujar Luthfie kepada Kompas.com, Rabu (14/4/2010).
Memilih majelis hakim
Riset Indonesia Corruption Watch tahun 2001 pada institusi penegak hukum di beberapa kota di Indonesia juga menunjukkan adanya praktik memilih hakim yang akan menangani kasus dengan menghubungi pimpinan pengadilan.
“Ada kalanya pengacara langsung menghubungi ketua PN atau PT. Hakim-hakim yang dipilih biasanya yang berasal dari suku yang sama dengan harapan perkaranya akan ditangani secara kekeluargaan. Tetapi kebanyakan hal ini dilakukan melalui panitera. Pengacara menghubungi panitera agar dihubungkan ke ketua PN untuk melakukan negosiasi penentuan majelis hakim yang akan menangani perkara kliennya. Secara aktif, pengacara mewakili kliennya melakukan modus ini. Tapi ada juga beberapa pengacara yang tidak mau melakukan negosiasi ini sehingga kliennya-lah yang aktif melakukan negosiasi dengan panitera,” demikian dalam laporan riset ICW.
Hakim dipilih agar majelis hakim yang menangani perkara dapat diarahkan sesuai dengan keinginan pihak-pihak yang berkolusi.
Pemerasan dan suap
Modus lain yang diungkap dalam riset ICW adalah seorang hakim dapat menghubungi pengacara atau pihak yang beperkara dalam kasus yang ditanganinya. Biasanya berdasarkan modus yang digunakan, utusan tersebut akan menyampaikan bahwa putusan sudah disiapkan, tetapi masih terdapat kelemahan atas bukti yang diajukan.
Tawaran “bantuan” memperkuat bukti tentunya tidak gratis. Jika pengacara tidak ingin turut menyuap hakim, maka dia menyerahkan masalah suap-menyuap itu kepada kliennya. Pengacara akan menghubungi hakim yang meminta uang bahwa kliennyalah yang akan menghubungi hakim tersebut. Klien seperti itu memang sejak awal sengaja datang kepada pengacara tertentu yang mau bekerja sama untuk memenangkan perkaranya dengan segala cara, termasuk menyuap hakim.
Riset ICW ini juga diperkuat oleh kesaksian salah satu pengacara yang meminta supaya namanya tak disebutkan. Kepada Kompas.com, ia mengungkapkan bahwa salah seorang klien yang kasusnya tengah diproses di Mahkamah Agung pernah langsung menghubungi hakim-hakim yang akan menangani perkaranya. Kepada sang pengacara ini, klien menceritakan bahwa ia sudah “memegang” dua dari tiga hakim majelis yang menangani kasusnya.
“Tapi, terakhir ternyata kalah juga. Ternyata, katanya, pihak lawan bayar lebih besar sehingga hakim yang tadinya sudah dipegangnya digeser dan digantikan dengan hakim lain. Praktik seperti ini sudah lazim terjadi di lembaga peradilan kita. Kadang sebagai pengacara merasa dikerjain juga,” ujar sumber tersebut.
"Cash and carry"
Seorang pengacara mengakui bahwa tak sedikit rekan seprofesinya yang menjadi bagian dari praktik “haram” itu. Ia menyebutnya sebagai pengacara “SP3”. Biasanya pengacara “aliran” ini piawai melakukan lobi agar kasus kliennya tak dilanjutkan. “Ciri-cirinya, pengacara terkenal, kaya raya, tapi enggak pernah keliatan kerja di pengadilan. Dia kerjanya di belakang layar. Ya seperti itulah,” katanya.
“Eksekusi” dari lobi dengan oknum mafia kasus biasanya diselesaikan dengan cash and carry dan tak jarang diselesaikan oleh sang pengacara. Pembagian “kue” tak akan dilakukan dengan sistem transfer antarbank. Uang biasanya diserahkan langsung. Selain untuk menghindari pajak penghasilan, hal ini tentunya juga untuk menghindari catatan transaksi keuangan yang bersangkutan.
“Saya pernah main ke kantor pengacara kondang itu, ada satu ruangan yang memang khusus untuk tempat transaksi. Saya ditunjukin sebuah ruangan yang enggak ada meja kerjanya, isinya kayak kapal pecah. Mau tahu apa isinya? Bekas amplop, kardus banyak sekali. Katanya, itu bekas tempat uang. Kalau kami bilang, yang seperti itu lawyer hitam,” kata pengacara tersebut.
Anggota Komisi III DPR, Syarifuddin Suding, mengatakan bahwa pimpinan institusi penegak hukum harus bisa menyelesaikan secara transparan dugaan praktik mafia hukum yang bersarang di tiap-tiap lembaga. Kasus SJ atau Gayus, menurutnya, baru terungkap setelah diungkap oleh Susno Duadji.
Di luar itu, jika merujuk pada laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), maka masih banyak aliran dana mencurigakan yang harus ditindaklanjuti dan dicurigai sebagai hasil kerja para mafia kasus. “Akan tetapi, ternyata banyak laporan PPATK yang tidak ditindaklanjuti oleh kepolisian atau kejaksaan. Kami mencurigai, ada apa?” kata Syarifuddin.
Oleh karena itu, dalam rapat kerja dengan Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang dijadwalkan pada pekan depan, materi mengenai makelar kasus ini akan menjadi perhatian utama oleh Dewan. “Kepolisian harus membuka ini semua. Selama ini, pihak beperkara dan kasus itu seolah jadi ATM,” ujarnya.
daftar pustaka
NPM : 30108512
KELAS : 2 DB07
Praktik jaringan mafia kasus bekerja secara sistematis dan terorganisasi. Praktik ini melibatkan oknum-oknum “nakal” di institusi penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, maupun lembaga peradilan. Untuk menghubungkan semua link lembaga penegak hukum ini, biasanya pihak di luar institusi dilibatkan.
SJ, yang diduga sebagai makelar kasus dan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri, disinyalir sebagai pihak yang berperan menjadi penghubung antara penegak hukum dan pihak yang beperkara. Hal itu dikatakan oleh Kepala Bidpenum Polri Zulkarnaen pascapenetapan SJ sebagai tersangka. Modus apalagi yang biasanya dijalankan?
Lobi di pengadilan
Kasus yang sudah sampai pada tahap persidangan pun masih bisa dilobi. Salah seorang pengacara, Luthfie Hakim, menuturkan bahwa biasanya tawaran datang dari orang luar atau dalam pengadilan. Menurut Luthfie, orang dalam pengadilan biasanya panitera. Ia menceritakan pengalaman menangani perkara kelas kakap yang melibatkan adik seorang konglomerat sebagai salah satu tersangkanya.
“Saya menangani legalnya. Tapi ada lawyer yang menangani lobi. Saya katakan, (klien) pasti kena karena waktu itu kan tersangkanya ada empat dan sudah 'dibabat' semua, ngaku semua. Ketika saya bilang pasti kena, adik konglomerat itu pusing. Kata lawyer lobi, enggak akan. Dia bilang Polri 1, 2, 3 sudah dibereskan. Akhirnya belakangan saya baru tahu kalau BAP diganti, pertanyaan dan jawaban dibuat sendiri. Kasusnya akhirnya di-SP3. Saya menghindari terlibat seperti itu dan saya bilang, rusak kalian bikin pengadilan ini,” ujar Luthfie kepada Kompas.com, Rabu (14/4/2010).
Memilih majelis hakim
Riset Indonesia Corruption Watch tahun 2001 pada institusi penegak hukum di beberapa kota di Indonesia juga menunjukkan adanya praktik memilih hakim yang akan menangani kasus dengan menghubungi pimpinan pengadilan.
“Ada kalanya pengacara langsung menghubungi ketua PN atau PT. Hakim-hakim yang dipilih biasanya yang berasal dari suku yang sama dengan harapan perkaranya akan ditangani secara kekeluargaan. Tetapi kebanyakan hal ini dilakukan melalui panitera. Pengacara menghubungi panitera agar dihubungkan ke ketua PN untuk melakukan negosiasi penentuan majelis hakim yang akan menangani perkara kliennya. Secara aktif, pengacara mewakili kliennya melakukan modus ini. Tapi ada juga beberapa pengacara yang tidak mau melakukan negosiasi ini sehingga kliennya-lah yang aktif melakukan negosiasi dengan panitera,” demikian dalam laporan riset ICW.
Hakim dipilih agar majelis hakim yang menangani perkara dapat diarahkan sesuai dengan keinginan pihak-pihak yang berkolusi.
Pemerasan dan suap
Modus lain yang diungkap dalam riset ICW adalah seorang hakim dapat menghubungi pengacara atau pihak yang beperkara dalam kasus yang ditanganinya. Biasanya berdasarkan modus yang digunakan, utusan tersebut akan menyampaikan bahwa putusan sudah disiapkan, tetapi masih terdapat kelemahan atas bukti yang diajukan.
Tawaran “bantuan” memperkuat bukti tentunya tidak gratis. Jika pengacara tidak ingin turut menyuap hakim, maka dia menyerahkan masalah suap-menyuap itu kepada kliennya. Pengacara akan menghubungi hakim yang meminta uang bahwa kliennyalah yang akan menghubungi hakim tersebut. Klien seperti itu memang sejak awal sengaja datang kepada pengacara tertentu yang mau bekerja sama untuk memenangkan perkaranya dengan segala cara, termasuk menyuap hakim.
Riset ICW ini juga diperkuat oleh kesaksian salah satu pengacara yang meminta supaya namanya tak disebutkan. Kepada Kompas.com, ia mengungkapkan bahwa salah seorang klien yang kasusnya tengah diproses di Mahkamah Agung pernah langsung menghubungi hakim-hakim yang akan menangani perkaranya. Kepada sang pengacara ini, klien menceritakan bahwa ia sudah “memegang” dua dari tiga hakim majelis yang menangani kasusnya.
“Tapi, terakhir ternyata kalah juga. Ternyata, katanya, pihak lawan bayar lebih besar sehingga hakim yang tadinya sudah dipegangnya digeser dan digantikan dengan hakim lain. Praktik seperti ini sudah lazim terjadi di lembaga peradilan kita. Kadang sebagai pengacara merasa dikerjain juga,” ujar sumber tersebut.
"Cash and carry"
Seorang pengacara mengakui bahwa tak sedikit rekan seprofesinya yang menjadi bagian dari praktik “haram” itu. Ia menyebutnya sebagai pengacara “SP3”. Biasanya pengacara “aliran” ini piawai melakukan lobi agar kasus kliennya tak dilanjutkan. “Ciri-cirinya, pengacara terkenal, kaya raya, tapi enggak pernah keliatan kerja di pengadilan. Dia kerjanya di belakang layar. Ya seperti itulah,” katanya.
“Eksekusi” dari lobi dengan oknum mafia kasus biasanya diselesaikan dengan cash and carry dan tak jarang diselesaikan oleh sang pengacara. Pembagian “kue” tak akan dilakukan dengan sistem transfer antarbank. Uang biasanya diserahkan langsung. Selain untuk menghindari pajak penghasilan, hal ini tentunya juga untuk menghindari catatan transaksi keuangan yang bersangkutan.
“Saya pernah main ke kantor pengacara kondang itu, ada satu ruangan yang memang khusus untuk tempat transaksi. Saya ditunjukin sebuah ruangan yang enggak ada meja kerjanya, isinya kayak kapal pecah. Mau tahu apa isinya? Bekas amplop, kardus banyak sekali. Katanya, itu bekas tempat uang. Kalau kami bilang, yang seperti itu lawyer hitam,” kata pengacara tersebut.
Anggota Komisi III DPR, Syarifuddin Suding, mengatakan bahwa pimpinan institusi penegak hukum harus bisa menyelesaikan secara transparan dugaan praktik mafia hukum yang bersarang di tiap-tiap lembaga. Kasus SJ atau Gayus, menurutnya, baru terungkap setelah diungkap oleh Susno Duadji.
Di luar itu, jika merujuk pada laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), maka masih banyak aliran dana mencurigakan yang harus ditindaklanjuti dan dicurigai sebagai hasil kerja para mafia kasus. “Akan tetapi, ternyata banyak laporan PPATK yang tidak ditindaklanjuti oleh kepolisian atau kejaksaan. Kami mencurigai, ada apa?” kata Syarifuddin.
Oleh karena itu, dalam rapat kerja dengan Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang dijadwalkan pada pekan depan, materi mengenai makelar kasus ini akan menjadi perhatian utama oleh Dewan. “Kepolisian harus membuka ini semua. Selama ini, pihak beperkara dan kasus itu seolah jadi ATM,” ujarnya.
daftar pustaka
Langganan:
Postingan (Atom)
